Tahun 2020 memang menjadi tahun yang berbeda dibanding
tahun-tahun sebelumnya. Pandemi COVID-19 telah mengubah kehidupan manusia di
seluruh dunia. Per tanggal 26 September 2020, sebanyak 993.972 orang telah
meninggal akibat terjangkit COVID-19. Krisis sosial dan ekonomi pun tidak dapat
dihindari.
Namun
kini secercah harapan telah muncul. Ilmuwan dari berbagai negara tengah
melakukan penelitian terkait vaksin yang akan digunakan untuk melawan COVID-19.
Bahkan sebagian di antaranya sudah mendapatkan lampu hijau untuk melanjutkan
uji coba tahap 4 dan diharapkan dapat mulai diproduksi tahun 2021.
Namun
pembuatan vaksin bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi. Pendistribusian
vaksin juga menjadi tugas besar jika kita ingin memenangi pertempuran
menghadapi COVID-19. Apa yang membuat distribusi vaksin menjadi hal yang
menantang? Mari kita bahas.
Tantangan
Distribusi Vaksin
Vaksin
merupakan suatu benda yang rapuh dan sensitif terhadap temperatur. Penanganan
secara sembrono dapat merusak vaksin sehingga tidak dapat digunakan. Oleh
karena itu, vaksin harus ditangani secara hati-hati dan disimpan dalam wadah
atau kontainer khusus yang memiliki pengatur suhu rendah (di bawah 0˚C), mulai
dari saat proses produksi, distribusi, hingga sampai di tangan konsumen. Dalam
dunia logistik, hal ini disebut cold chain distribution atau distribusi
bahan bersuhu rendah.
Selain
itu mendistribusikan vaksin kepada 7,5 miliar penduduk dunia bukanlah merupakan
hal yang mudah. Belum lagi jika vaksin yang diberikan memerlukan dosis ganda
sehingga dapat meningkatkan jumlah vaksin yang didistribusikan hingga 2 kali
lipat. Ini merupakan tantangan besar dalam dunia logistik.
Peran
Dunia Penerbangan
Banyaknya
vaksin yang perlu didistribusikan serta rapuhnya vaksin menyebabkan proses
pendistribusian bukan hanya harus dilakukan secara aman, namun juga cepat. Jika
terlambat didistribusikan maka akan semakin banyak orang yang terjangkit
COVID-19.
Pesawat
sebagai moda transportasi yang memiliki daya jelajah serta kecepatan tinggi
menjadi solusinya. Pesawat mampu menjangkau berbagai negara yang ada di dunia
sehingga proses pendistribusian bisa lebih cepat dilakukan.
Namun
tidak semua pesawat dapat mengangkut vaksin. Diperlukan pesawat kargo khusus
yang sudah dilengkapi alat pengatur suhu rendah serta telah mendapat sertifikat
dari IATA. Hal ini bertujuan untuk memastikan vaksin tidak rusak selama
penerbangan sehingga dapat digunakan pasien.
Dilansir
dari simpleflying.com, sejumlah maskapai di dunia seperti Lufthansa
Cargo, Air France-KLM Martinair, dan AirBridgeCargo (ABC) Airlines tengah
bersiap menjawab tantangan logistik ini. Sejumlah persiapan seperti uji coba
mengangkut kargo yang sensitif terhadap suhu, memaksimalkan kargo yang
diangkut, serta melatih kru telah dilakukan meski belum ada kepastian kapan
vaksin siap digunakan. Hal ini dilakukan agar ketika vaksin sudah siap
diproduksi, maka maskapai-maskapai ini dapat segera mendistribusikannya tanpa
ada penundaan.
Bandara
sebagai Kunci Rantai Distribusi
Bukan hanya maskapai yang harus bersiap, namun bandara
juga harus mempersiapkan diri. Pada dasarnya bandara merupakan tempat pesawat
lepas landas dan mendarat sehingga dapat menjadi tempat penyimpanan sementara
vaksin sebelum didistribusikan melalui jalur darat.
Alat transportasi khusus pengangkut vaksin
Bandara
harus memiliki gudang atau lahan yang luas serta dilengkapi teknologi canggih
untuk menyimpan obat-obatan yang memiliki temperatur sensitif. Gudang atau
lahan ini harus memiliki akses sedekat mungkin dengan apron agar vaksin dapat
segera diambil dari pesawat dan disimpan maupun sebaliknya. Bandara juga harus
mempersiapkan alat transportasi khusus yang dapat menjamin kestabilan
temperatur agar vaksin tidak rusak selama proses pengangkutan.
Fasilitas penyimpanan obat yang sensitif terhadap
temperatur di bandara Frankfurt
Bandara
Frankfurt di Jerman dan Schipol di Belanda menjadi 2 bandara yang menunjukkan
keseriusan dalam menghadapi tantangan distribusi vaksin COVID-19. Saat ini
bandara Frankfurt telah memiliki lahan seluas 12.000m2 yang sudah
dilengkapi teknologi canggih untuk menyimpan vaksin. Pengelola bandara
Frankfurt juga berencana memperluas lahan ini seluas 2.000m2
sehingga lahan yang siap digunakan menjadi 14.000m2. Sementara
pengelola bandara Schipol terus melakukan komunikasi dengan pemerintah, bea
cukai, serta instrumen terkait distribusi lainnya.
Persiapan
di Indonesia
Sampai
saat ini saya belum menemukan berita atau artikel khusus yang membahas soal
persiapan Indonesia dalam mendistribusikan vaksin COVID-19. Namun melihat
jumlah penduduk yang mencapai 267 juta jiwa dengan 271.339 di antaranya (data
per 26 September 2020) terjangkit COVID-19 sepertinya Indonesia harus segera
melakukan persiapan.
Sebenarnya
tentu kita dapat meminta bantuan maskapai internasional untuk mengangkut kargo
vaksin. Namun dengan jumlah vaksin yang diperlukan cukup banyak, maka biayanya
akan menjadi mahal. Indonesia juga harus bersaing dan mengantre dengan negara-negara
lainnya sehingga proses vaksinasi dapat tertunda.
Maskapai
besar seperti Garuda Indonesia dan maskapai khusus kargo seperti My Indo
Airlines harus segera mempersiapkan armada dan krunya untuk menjawab tantangan
ini. Jika maskapai nasional dapat mengangkut vaksin sendiri, maka biayanya pun
dapat menjadi lebih murah dan proses distribusi dapat segera dilakukan. Jika
masalah vaksinasi di Indonesia sudah beres pun kita dapat membuka jasa
pengiriman vaksin ke negara-negara tetangga.
Bandara-bandara
di Indonesia pun juga harus segera menyiapkan lahan penyimpanan vaksin yang
memumpuni. Bandara Soekarno-Hatta sebagai bandara terbesar dan tersibuk dapat
menjadi kunci pendistribusian vaksin di Indonesia. Tentu hal ini memerlukan
dana dan waktu yang tidak sedikit. Namun hal ini perlu segera dilakukan agar
tidak ada lagi penundaan ketika vaksin telah siap didistribusikan.
Pandemi
COVID-19 memanglah suatu permasalahan yang sangat kompleks. Penemuan vaksin
menjadi hal yang ditunggu-tunggu banyak pihak untuk segera menyelesaikan
pandemi ini. Selagi ilmuwan sedang sibuk melakukan penelitian, maka persiapan
distribusi logistik ini harus segera dilakukan. Peran pemerintah dan masyarakat
sangat diperlukan untuk mempermudah proses distribusi vaksin. Semakin banyak pihak
yang bekerja sama, maka akan semakin cepat juga pandemi ini berlalu.
Okee
sekian dulu pembahasan kali ini. Semoga bermanfaat. Salam~








Comments
Post a Comment